Select your language


Pengalaman Relawan
Pengalaman Relawan Richard Cristianto
Dalam masa kerelawanan saya yang berjalan selama empat bulan, saya bergabung ke dalam Komisi Perubahan Iklim (KPI), karena ketertarikan saya kepada isu iklim yang tidak kunjung membaik. Pada dua bulan pertama, saya diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan saya di program KIPHA (Keadilan Iklim dan Perlindungan Hak Anak) yang bergerak di bawah KPI. Sesuai dengan namanya, KIPHA bergerak untuk melindungi hak anak di tengah krisis iklim ini dengan melakukan pendampingan dan pemberdayaan, melalui program-program untuk membekali mereka di tengah ketidakpastian iklim. Salah satu aktivitas utama saya sebagai relawan adalah ikut serta dalam monitoring dan pendampingan ke sekolah-sekolah mitra KIPHA. Monitoring dilakukan melalui diskusi dengan guru-guru yang terlibat langsung dengan KIPHA, untuk mengetahui apakah program-program yang ada sudah berjalan dengan baik. Sementara itu, pendampingan dilakukan melewati pengisian berbagai aktivitas pembelajaran di sekolah mitra, seperti kelas literasi, ekspedisi (kerja bakti membersihkan sampah, menghitung emisi karbon, memotret ketidakadilan iklim), serta workshop mengenai keadilan iklim.

Tuntutan di lapangan setiap hari bersifat dinamis dan tidak pernah sama. Terkadang, saya diperlukan untuk merekam video tugas anak-anak. Di hari lain, saya membantu mencarikan sumber bacaan bagi kelas literasi mereka. Kondisi ini cukup kompleks bagi saya sebagai penyandang autisme, karena kondisi yang terus berubah pada setiap hari kerja. Di sisi lain, hal tersebut membantu saya membiasakan diri dengan kondisi pekerjaan lapangan yang memang tidak bisa diprediksi.
Momen favorit saya selama 2 bulan di KIPHA adalah ketika saya ikut mendampingi anak-anak SMP BOPKRI 3 dalam kegiatan photovoice mereka. Kami melakukan ekspedisi ke Kampung Terban yang terletak di pinggiran Kali Code, dan memotret ketidakadilan iklim yang terjadi kepada warga di sekitar. Siswa-siswi terlihat cukup antusias dengan acara tersebut. Beberapa dari mereka melakukan wawancara ke warga sekitar demi mempelajari lebih lanjut dampak nyata dari polusi air dan udara yang terjadi di sana.
Di penghujung bulan April, waktu saya di KIPHA berakhir, dan saya kembali bernaung ke KPI. Hal tersebut memulai penugasan kedua saya, yaitu untuk membuat suatu film pendek bagi SHEEP Indonesia mengenai ketidakadilan iklim melalui potret kondisi kualitas air Kali Code yang buruk demi meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan sungai tersebut. Pengalaman ini cukup menantang, karena saya belum pernah melakukan videografi maupun dubbing audio sebelumnya. Tim pembimbing telah memberikan arahan komprehensif yang mendorong saya untuk menyelesaikan proyek ini.

Selama proses kerelawanan, dari berbagai kegiatan yang saya ikuti, terdapat banyak aspek-aspek dalam bekerja yang saya pelajari. Misalnya, dari hal dasar seperti kedisiplinan waktu dan berpikir kritis dari waktu saya di KIPHA. Kedua aspek tersebut diperlukan untuk berkoordinasi dengan mitra-mitra sekolah, karena kondisi setiap sekolah yang unik akan membutuhkan solusi yang berbeda ketika terdapat suatu isu. Kemudian, pada penugasan film pendek, saya belajar mengenai cara memotret, mengedit, dan mempresentasikan film yang sudah saya buat.
Inklusivitas merupakan salah satu aspek inti dari pelaksanaan kegiatan di SHEEP, dan saya rasa, telah berjalan dengan cukup baik. Meskipun saya “berbeda,” namun saya tidak pernah merasa dikucilkan karena kondisi tersebut. Ketika saya bercerita mengenai perjuangan saya sebagai penyandang autisme di Indonesia, rekan-rekan kerja saya mau mendengar dan justru suportif alih-alih memandang sebelah mata. Semoga, kondisi kantor yang inklusif seperti ini terus dipertahankan dan disebar, sehingga orang-orang berkebutuhan khusus lainnya juga dapat bekerja dengan nyaman.

Suasana kerja di dalam kantor SHEEP Indonesia terbilang sangat santai. Santai dalam arti, ketika saya perlu pergi ke kampus karena ada keperluan bimbingan proposal skripsi, ataupun urusan lain seperti membawa motor ke bengkel, staf tidak pernah menghalangi ataupun membuat saya merasa bersalah. Saya merasa bahwa hak-hak saya dihormati dan diakomodir ketika bekerja untuk SHEEP Indonesia. Terkadang, kesantaian ini dapat memperlambat alur komunikasi antar anggota. Semoga, ini dapat menjadi hal yang dapat diperbaiki kedepannya.
Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk melakukan kerelawanan saya di sini. Semoga, artikel ini dapat menjadi cara bagi saya, dan Yayasan SHEEP Indonesia untuk semakin berkembang kedepannya
EN 